Isu Mengenai Etika dan Profesionalisme


Terbentuknya etika komputer sebagai sebuah disiplin ilmu baru dalam bidang teknologi tidak dapat dipisahkan dari permasalahan-permasalahan seputar penggunaan komputer yang meliputi kejahatan komputer, pelanggaran HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) dan tanggung jawab profesi.

Kejahatan Komputer
Kejahatan komputer atau computer crime adalah kejahatan yang ditimbulkan karena penggunaan komputer secara ilegal. Kejahatan komputer terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi komputer saat ini. Beberapa jenis kejahatan komputer meliputi Denial of Services (melumpuhkan layanan sebuah sistem komputer), penyebaran virus, spam, carding (pencurian melalui internet) dan lain-lain. Contoh : Pada tahun 1982 telah terjadi penggelapan uang di bank melalui komputer sebagaimana diberitakan “Suara Pembaharuan” edisi 10 Januari 1991 tentang dua orang mahasiswa yang membobol uang dari sebuah bank swasta di Jakarta sebanyak Rp. 372.100.000,00 dengan menggunakan sarana komputer. Perkembangan lebih lanjut dari teknologi komputer adalah berupa computer network yang kemudian melahirkan suatu ruang komunikasi dan informasi global yang dikenal dengan internet. Pada kasus tersebut, kasus ini modusnya adalah murni criminal, kejahatan jenis ini biasanya menggunakan internet hanya sebagai sarana kejahatan.

Penyelesaiannya, karena kejahatan ini termasuk penggelapan uang pada bank dengan menggunakan komputer sebagai alat melakukan kejahatan. Sesuai dengan undang-undang yang ada di Indonesia maka, orang tersebut diancam dengan pasal 362 KUHP atau Pasal 378 KUHP, tergantung dari modus perbuatan yang dilakukannya.

Pelanggaran HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)
Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh internet menyebabkan terjadinya pelanggaran HAKI seperti pembajakan program komputer, penjualan program ilegal dan pengunduhan ilegal. Contoh : PT Huawei Tech Investment, pemegang hak cipta handset Huawei Esia di Indonesia, akan mengambil tindakan hukum terhadap pihakpihak yang  melanggar hak cipta miliknya “Kami tidak akan segan untuk menindaklanjuti dengan langkah hukum yang lebih tegas sama halnya seperti upaya pidana yang telah dilakukan sebelumnya,” ujar Ignatius Supriady, kuasa hukum Huawei, kemarin. Pernyataan Ignatius itu dilontarkan terkait dengan munculnya praktik unlocking yang dilakukan pihak lain terhadap handset Huawei yang sejatinya khusus diciptakan agar hanya dapat digunakan untuk layanan jasa telekomunikasi Esia bundling.

Tanggung Jawab Profesi
Berkembangnya teknologi komputer telah membuka lapangan kerja baru seperti programmer, teknisi mesin komputer, desainer grafis dan lain-lain. Para pekerja memiliki interaksi yang sangat tinggi dengan komputer sehingga diperlukan pemahaman mendalam mengenai etika komputer dan tanggung jawab profesi yang berlaku. Contoh : Jaksa yang bertugas di Kejagung, Urip Tri Gunawan, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Koordinator jaksa penyelidik kasus BLBI Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) milik obligor Grup Gadjah Tunggal Sjamsul Nursalim telah tertangkap basah bersama barang bukti berupa uang senilai US$ 660 ribu atau Rp 6 miliar. Urip Tri Gunawan adalah salah satu dari 35 jaksa daerah terbaik di Indonesia dan pernah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri di Klungkung, Bali. Dia dipergoki sedang menerima suap dari Artalyta Suryani yang diduga terkait penghentian penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung (Kejagung).



Pendapat penulis:
Pada kasus kejahatan komputer dengan cara membobol bank melalui komputer diatas sangat disayangkan, karena seharusnya mereka dengan kemampuan seperti itu dapat digunakan untuk tujuan yang baik tanpa harus berbuat kriminal, salah satunya menjadi penguji tingkat keamanan software suatu perusahaan (termasuk bank).

PT Huawei Tech Investment selaku produsen sebelum melakukan locking pada handphone bundlingannya pasti sudah mengatisipasi bila terjadi unlocking pada produknya, tapi yang saya dengar akhir-akhir ini Esia malah membiarkan konsumen yang melakukan unlocking sebagai langkah pemasarannya yaitu dengan membiarkan konsumen untuk memilih apakah Esia selaku kartu CDMA termurah dibandingkan dengan kartu CDMA lainnya yang katanya lebih murah atau memang 'murahan'?

Mengenai kasus suap yang dialami Artalyta Suryani memang tidak jauh dari segi politik. Mereka (para pejabat) dengan mudahnya mengatasnamakan hukum demi memperkaya dirinya sendiri. Mereka tidak sadar apabila rakyat mulai geram atas perilaku mereka, akibatnya saat ini rakyat tidak mempercayai pemerintah karena ulah para pejabat yang tidak bertanggung jawab. Dan saat ini memang hanya satu kata yang terlintas di otak penulis, bukan... bukan Reformasi, itu sudah basi.... tapi adalah REVOLUSI !!


sumber :
http://deluthus.blogspot.com/2011/02/8-contoh-kasus-cyber-crime-yang-pernah.html
http://meirianie.wordpress.com/2011/02/28/kasus-pelanggaran-haki/
http://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/etika-dan-tanggungjawab-profesi-hukum/

0 comments:

Post a Comment